PEMECAHAN MASALAH

 



MODUL

PEMECAHAN MASALAH

24 JP (1080 me

Pendahuluan



Kompleksitas permasalahan kamtibmas menuntut anggota Polri untuk memahami berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat serta melakukan penanganannya dengan melibatkan stakeholder (pemangku kepentingan), sehingga permasalahan Kamtibmas yang terjadi tidak berkembang menjadi lebih besar. Dengan kata lain penanganan kejahatan atau ketertiban yang berulangkali dan saling berkaitan tidak terulang kembali.

Bentuk kejadian Kamtibmas berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, dengan permasalahan bersifat tunggal atau kelompokdengan berbagai faktor penyebabnya, sehingga perlu dikembangkan solusi bersifat spesifik yang melibatkan masyarakat. Oleh karena itu anggota Polri perlu memiliki kemampuan khusus tentang pemecahan masalah Kamtibmas melalui pendidikan pengembangan spesialisasi.

Untuk memberikan kemampuan tentang pemecahan masalah disusun modul yang membahas tentang: pemolisian masyarakat dengan pendekatan pemecahan masalah di masyarakat dan pemecahan masalah Kamtibmas dengan metode Scanning Analysis Respons and Evaluations (SARE).








Standar Kompetensi



Memahami dan terampil memecahkan masalah Kamtibmas dengan pendekatan pemolisian masyarakat.











Kompetensi Dasar



Memahami konsep pemecahanmasalah.

Indikator hasil belajar :

Menjelaskan pengertian pemecahan masalah.

Menjelaskan tujuan pemecahanmasalah.

Menjelaskan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam kegiatan pemecahanmasalah.


Memahami pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatan pemolisian masyarakat(Polmas).

Indikator hasil belajar:

Menjelaskan masalah-masalah Kamtibmas.

Menjelaskan keuntungan pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatanPolmas.

Menjelaskan komponen penting dalam pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatanPolmas.

Menjelaskan metode dan teknik pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatanPolmas.


Memahami dan terampil melakukan pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatan Polmas menggunakan metode Scanning Analisys Respon Evaluation(SARE).

Indikator hasil belajar:

Menjelaskan pengertianSARE.

Menjelaskan tahapan pemecahan masalah metodeSARE.

Mempraktikkan pemecahan masalah dengan menggunakan metodeSARE.











Materi Pelajaran



Pokok Bahasan1:

konsep pemecahan masalah.

Sub Pokok Bahasan 1:

Pengertian pemecahanmasalah.

Tujuan pemecahanmasalah.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam kegiatan pemecahanmasalah.


Pokok Bahasan2:

pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatan pemolisian








masyarakat (Polmas).


Sub Pokok Bahasan 2:

Masalah-masalahKamtibmas.

Keuntungan pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatanPolmas.

Komponen penting dalam pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatanPolmas.

Metode dan teknik pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatanPolmas.


Pokok Bahasan3:

pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatan Polmas menggunakan metode Scanning Analisys Respon Evaluation (SARE).


Sub Pokok Bahasan 3:

PengertianSARE.

Tahapan pemecahan masalah metodeSARE.








Metode Pembelajaran



MetodeCeramah

Metode ini digunakan untuk menjelaskan tentang materi pemecahan masalah.


Metode TanyaJawab

Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi Kapita pemecahan masalah yang telah disampaikan.


Metode Diskusi

Metode ini digunakan untuk penyajian pelajaran dimana peserta didik dihadapkan pada suatu masalah yang bisa berupa pertanyaan atau pernyataan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama guna memperdalam pengetahuan tentang materi pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatan pemolisian masyarakat dan metode SARE.


Metode Praktik

Metode ini digunakan untuk mempraktikkan pemecahan masalah dengan menggunakan metode SARE.










Alat/media, Bahan dan Sumber Belajar



Alat/Media

Komputer/laptop.

LCD danscreen.

Flashdisk.

Whiteboard.

Papan flipchart.

Skenariolatihan.


Bahan

Alat tulis.

Kertas HVS.

Kertas flipchart.


Sumber Belajar:

Modul pemecahan masalah untuk Dikbangspes Pama Polmas Tahun2017.

Metode SARE menurut Prof. HERMAN GOLDSTEIN Tahun 1970, Profesor Hukum dari UniversitasWisconsin











Kegiatan Pembelajaran



Tahap awal : 10menit

Pendidik melaksanakanapersepsi:

Perkenalan.

Menyampaikan tujuanpembelajaran.

Menyampaikan tugas yang harus diselesaikan perserta didik selamapembelajaran.

Peserta didik menyimak, menanggapi dan melaksanakan instruksipendidik.

Tahap inti : 980 menit Tahap inti 1 : 135menit

Pendidik menyampaikan materi pemecahanmasalah.

Peserta menyimak, memperhatikan dan mencatat hal-hal yang dianggappenting.

Pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya atauberkomentar.

Peserta didik menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pendidik.










Tahap inti 2 : 180 menit


Pendidik membagi peserta didik menjadi beberapa kelompokdiskusi.

Peserta didik mendiskusikan materipembelajaran.

Peserta didik memaparkan hasil diskusi kelompok dan ditanggapi kelompoklain.

Pendidik memfasilitasi, membimbing danmengawasi.

Pendidik memberikan ulasan hasil paparan masing-masing kelompok dan menyimpulkan hasildiskusi.

Tahap inti 3 : 645 menit

Pendidik mempraktikkan pemecahan masalah dengan menggunakan metodeSARE.

Peserta didik mempraktikkan pemecahan masalah dengan menggunakan metodeSARE.

Pendidik memerintahkan kepada peserta didik untuk mempraktikkan pemecahan masalah dengan menggunakan metodeSARE.

Peserta didik mempraktikkan pemecahan masalah dengan menggunakan metodeSARE.

Pendidik menunjuk kepada perwakilan peserta didik untuk mempresentasikan hasil praktik dan peserta lainnya memberikan saran dantanggapan.

Pendidik mengevaluasi dan menyimpulkan hasil praktik yang dilakukan oleh pesertadidik.

Tahap akhir : 20menit

Pendidik memberikan ulasan dan penguatan materi secara umum.

Pendidik mengecek penguasaan materi dengan bertanya secara lisan dan acak kepada pesertadidik.

Pendidik menggali manfaat yang bisa di ambil dari materi yang disampaikan.

Pendidik menutupkelas.

Tes capaian kompetensi: 90menit








Tagihan / Tugas




Hasil pendapat dari semua peserta tenang harapan:

Pembuatan ringkasan (dibuat diluar jampelajaran).





b. Hasil tugas yang didiskusikan.

2. Hasil pendapat sindikat yang disepakati tentang tatatertib.







Lembar Kegiatan



Permasalahan Rencana Pembangunan Jalan Tol Antar Provinsi


Sebagai seorang Bhabinkamtibmas yang bertugas di Desa A, Polsek Maju Rejo, setiap hari melakukan tugasnya di Desa dan selalu banyak bertemu dengan Masyarakat desa tersebut. Anggota Bhabin ini bernama Sapta jaya berpangkat Brigadir dan sudah sekitar lima tahun sebagaiBhabin.

Dalam beberapa waktu terakir dirasakan ada kejanggalan dalam bertatap muka dengan sebagian warga dan yang muncul dari suara-suara warga selalu memperbincangkan tentang ganti rugi tanah, Relokasi tempat tinggal dan juga tentang nasib anak- anaknya bla itu jadi dilaksanakan di desanya.

Makin hari suasana Desa makin bertambah hangat dalam pembicaraan antar warga tersebut, bahkan ada juga beberapa perangkat desa yang ada ikut dan cukup serius menanggapi keluhan para warganya.

Ternyata setelah anggota Bhabin lebih mendekati dan menanyakan sebagian warga, bahwa di desanya akan dibangun Proyek besar jalan tol yang akan menhubungkan antar provinsi dengan lebar total kurang lebih 30 meter dan panjang yang melalui wilayah Desa tersebut sepanjang 5 km, padahal dirasakan warga bahwa tanah yang kena rencana jalan tol tersebut sebagian banyak penduduknya, dan sebagian lagi merupakan lokasi desa yang produktif. Disisi lain sebagian warganya adalah sebgai petani dari lahantersebut.


Pemindahan LokasiPasar


Disuatu desa F yang merupakan tengah-tengah dari Kecamatan Makmur, memiliki sebuar pasar tradisional yang menjadi ikon perbelanjaan di desa tersebut bahkan tidak sedikit warga luar desa yang setiap harinya melakukan aktifitas perbelanjaan di pasar tersebut. Suatu hari dalam acara pertemuan warga desa bulanan, Bripka Suka S.H. sebagai Bhabinkamtibmas desa tersebut ikut menghadiri kegiatan pertemuan warga.

Dalam pertemuan tersebut ternyata ada agenda kusus yang dibahas sangat seru oleh peserta rapat yang kebetulan dipimpin langsung olehyaitu rencana Rekolasi Pasaryang sudah lama








ada dan akan digunakan untuk rencana pembangunan Rumah sakit daerah.

Sampai selesai giat pertemuaan warga tersebut belum ada kesepakan warga untuk rencana kepindahan pasar dan pendirian Rumah sakit daerah tersebut.

Tugas Peserta Didik :

Kelas dibagi menjadi 3 kelompok,

Diskusikan cara pemecahan masalah dengan metode SARE,

Paparkan hasil diskusi di depan semuakelompok.

Solusi-solusi pemecahan masalah yang dihasilkan dalam diskusi.

Selamat berlatih


a. Kelompok2


Skenario 3 (Kasus Tindak Pidana)

Tema Drama : Pemecahan Masalah “perselisihan antar warga”, oleh Bhabinkamtibmas.

Keterangan

Tetangga1 : Ahyar

Tetangga2 : Erik Bhabinkamtibmas : Muktar Narator : Rachmad Permasalahan

Adanya suatu masalah di dalam masyarakat dimana ada perselisihan antar tetangga, karena anaknya saling ejek sehingga orang tua kedua anak tersebut ikut campur dan terjadi cekcok mulut yang menyebabkan ada pemukulan.


Narator : Pada saat Bhabinkamtibmas melaksanakan patroli mendapatkan telepon dari warga, bahwa di RW A ada perselisihan antar tetangga, selanjutnya Bhabinkamtibmas menuju ke TKP, di lokasi sudah ramai orang karena adanya perselisihan tersebut. Bhabinkamtibmas langsung melakukan peleraian dan membawa kedua orang tua ke kantor RW untuk diadakan musyawarah. Di kantor RW tersebut Bhabinkamtibmas menghubungi ketua RT, RW dan tomas serta FKPM untuk hadir dalam musyawarah tersebut, setelah semua kumpul Bhabinkamtibmas mengadakan musyawarah.

Bhabin : Assalamu’alaikum, saya Bhabinkamtibmas Kel Pekayon, saat ini saya mengumpulkan bapak-bapak karena ada permasalahan antar tetangga, saya ingin penjelasan dari permasalahan tersebut, karena itu coba kedua belah pihak untuk menjelaskan awal permasalahannya, dimulai dari tetangga A” Tetangga A : “Begini pak awalnya, anak saya pulang dalam keadaan menangis karena diledek oleh anak tetangga B,dengan





ledekan, item keling jelek, mendengar laporan itu saya tersinggung dan mendatangi tetangga B, dengan maksud, agar anaknya dijaga mulutnya, namun tetangga B malah tersinggung dan mengatakan bahwa anak saya memang jelek, kenapa mesti marah, mendengar jawaban itu, saya langsung memukul tetanggaB”

Tetangga B: “bahwa saya tidak pernah mengatakan anaknya jelek, itu karangannya saja, saya hanya bilang, kalau anak saya tidak pernah meledek anaknya dengan perkataan jelek dan tiba- tiba saya langsung dipukul”

Bhabin : “Bapak-bapak sekalian bahwa anak-anak itu biasa dalam pergaulan, suka main ledek-ledekan dan nanti dia akan cepat sekali berbaikan, kita sebagai orang tua jangan ikut campur terlalu dalam dengan apa yang terjadi dengan anak kita, karena jika kita ikut campur akan terjadi seperti ini, orang tua akan berkelahi atau saling pukul, sedangkan anaknya besok sudah baikan lagi, karena itu dalam kesempatan ini kedua belah pihak saling menyadari saja dan tidak perlu mencari siapa yang salah serta saling memaafkan, memang tetangga B mempunyai hak untuk melaporkan kejadian tersebut ke Polisi namun dalam hal ini perkara tersebut termasuk pidana ringan yang penyelesaiannya bisa dilakukan dengan musyawarah. Karena itu saya mengharapkan kedua belah pihak dalam permasalahan ini mau bermusyawarah, apakah kedua belah pihak mau musyawarah?” Tetangga A: “iyapak”

Tetangga B: “iyapak”

Narator: selanjutnya karena kedua belah pihak mau musyawarah disaksikan ketua RT RW dan tomas, dibuatlah surat pernyataan bersama untuk memperkuat hasil musyawarah tersebut.

Diskusikan : Sebutkan poin baik dan poin buruknya !


b. Kelompok3

Skenario 3 (Pencegahan Kejahatan)

Tema Drama : Pemecahan Masalah “penyuluhan kepada anak sekolah” oleh Bhabinkamtibmas.

Keterangan

KepalaSekolah : Muktar Bhabinkamtibmas : Ahyar Narator: Rachmad Permasalahan

Pemecahan kejahatan oleh Bhabinkamtibmas dengan melakukan kunjungan ke sekolah serta melakukan himbauan kamtibmas.

Bhabin : Assalamu’alaikum, mohon ijin bapak kepala sekolah, saya Bhabinkamtibmas desa Kaliabang Tengah”

Kepsek : “oh iya pak, silahkan masuk, ada apa pak?”

Bhabin : “Hari ini adalah hari terakhir anak-anak ujian sekolah, kiranya saya ingin melakukan himbauan kamtibmas kepada





siswa siswi sekolah bapak, hal ini sesuai dengan arahan pimpinan untuk mencegah terjadinyatawuran”

Kepsek : “baik pak, saya sangat menyambut baik dan saya akan mengumpulkan anak-anak di lapangan”

Narator: selanjutnya Kepsek dan Bhabinkamtibmas menuju lapangan dimana anak-anak sekolah sudah menunggu untuk diberikan arahan dan himbauan kamtibmas, selanjutnya Bhabinkamtibmas memberikan arahan kepada siswa siswi.

Diskusikan : Sebutkan poin baik dan poin buruknya !

Peserta pelatihanmembuatresume materi.






















































Bahan Bacaan



POKOK BAHASAN 1 PEMECAHAN MASALAH

1. Pengertian PemecahanMasalah

Herman Goldstein, seorang profesor hukum dari Universitas Wisconsin menghabiskan waktu 40 tahun belajar dan bekerja dengan polisi, sehingga beliau dijuluki bapak Pemolisian Berorientasi Masalah. Bahkan sebenarnya semua usaha Pemecahan Masalah yang sekarang dilakukan di organisasikepolisian di seluruh dunia dimulai/didasarkan pada hasilkaryanya.

Pada akhir tahun 1970-an, Goldstein menyarankan agar kepolisian merubah fokus mereka dari fokus internal (jumlah kendaraan, jumlah petugas, pola penempatan staf) ke fokus eksternal (bagaimana   pemolisian   berdampak   pada  kejahatan, ketakutan danketidaktertiban).

Herman Goldstein mendorong perubahan dari model pemolisian yang terlalu mengutamakan jumlah penangkapan atau jumlah surat perintah yang dikeluarkan (itu hanya dua dari sekian banyak contoh lainnya), ke model pemolisian yang mengutamakan bagaimana melakukan sesuatu yang mempunyai dampak pada kejahatan.

Kunci utama pemecahan masalah adalah pengetahuan, diperolehnya suatu pemahaman yang mendalam mengenai masalah yang menjadi target pemecahan. Masalah harus dianalisa secara mendalam, sehingga solusi yang direncanakan cocok untuk masalah tersebut. Solusi-solusi tidak dipilih secara acak, tetapi direncanakan sedemikian rupa atas dasar usaha yang seksama untuk menangani akar permasalahannya.

Berbagai kelompok masyarakat di dunia telah membuktikan keberhasilan metode pendekatan pemecahan masalah (problem solving). Melalui pendekatan ini, polisi dan masyarakat merasakan manfaat berkaitan dengan penurunan berbagai masalah kejahatan, seperti perampokan, pencurian, prostitusi, perdagangan narkoba, juga grafiti. Pemecahan masalah adalah satu dari dua komponen kunci Polmas. Tanpa pemecahan masalah, Polmas tidak lebih dari sekedar hubungan masyarakat. Fokus yang substansial pada kejahatan, ketidaktenteraman,dan








ketidaktertiban merupakan suatu hal yang penting dalam konsep Polmas.

Problem solving atau pemecahan masalah adalah sebuah pendekatan analitis untuk menangani kejahatan. Dibutuhkan waktu yang lama bagi instruktur atau tenaga pendidik untuk mengajarkan topik ini, tanpa melihat apakah pesertanya berasal dari anggota polisi atau masyarakat, sehingga peserta sanggup melakukan pendekatan analitis untuk menangani kejahatan. Serangkaian proses termasuk dalam pemecahan masalah yang intinya adalah proses mengamati permasalahan kejahatan dan ketidaktertiban. Proses ini meliputi upaya memahami masalah, mengusulkan sejumlah solusi (tidak hanya dengan hukum  pidana dan penangkapan), mengevaluasi, serta melakukan evaluasi ulang keefektifan solusi yang telah dipilih. Pelatihan, keterampilan, dan alat bantu sangat dibutuhkan dalam halini.

Masalah harus dianalisis dengan baik, kuantitatif maupun kualitatif, agar solusi yang dicapai tepat mengenai masalah tersebut. Proses menganalisis harus dilakukan dengan menggali informasi dari berbagai sumber, antara lain dari orang yang mengalami dampak langsung, kepolisian (meliputi data riwayat kejahatan, laporan/pengaduan, survei, catatan telepon), instansi pemerintah lainnya (mencakup peraturan, penerapan hukum percobaan, pembebasan bersyarat, rencana tata kota), dan Rukun Tetangga (RT). Berbagai peraturan daerah, juga peraturan dan hukum lingkungan, termasuk pula sumber informasi yang berguna dalam analisis persoalan.

Alternatif solusi dapat diperoleh dari khasanah hukum pidana. Namun, kemungkinan solusi juga lain harus dipelajari dengan lebih mendalam. Dengan demikian, alternatif solusi yang akan diterapkan sesuai dengan permasalahan. Sering kali kita membutuhkan solusi kreatif untuk menangani permasalahan yang kompleks. Pendekatan yang konvensional mungkin kurang tepat untuk sebuah masalah dan dibutuhkan sedikit modifikasi di lapangan. Pada kondisi ini, diperlukan adanya usaha evaluasi untuk mengetahui sejauh mana sebuah solusi efektif. Seperti kita ketahui, usaha pemecahan masalah tidak akan sempurna tanpa evaluasi akhir. Jika sebuah solusi yang diambil terbukti efektif, maka solusi yang lain harus dicoba setelah mempelajari laporan yang diperoleh selama analisis. Tentu saja, informasi tambahan harus dikumpulkan sebelum solusi baru dikembangkan dan diuji. Dengan demikian, kepolisian selalu berkembang dan menerapkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan zaman yang juga selalu berubah.

a. Pemahaman tentang Masalah.

Kunci utama pemecahan masalah adalah pengetahuan untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam terhadap masalah yang menjadi target.Permasalahan





tersebut harus dianalisis secara mendalam sehingga solusi yang direncanakan memang spesial untuk persoalan tersebut. Sebuah solusi tidaklah dipilih secara acak, tetapi didasarkan pada pengamatan yang mendalam mengenai akar permasalahannya.

DefinisiMasalah.

Masalah didefinisikan sebagai suatu kondisi, kejadian dan keadaan yang mengejutkan, merugikan, mengancam, menyebabkan ketakutan, atau cenderung menyebabkan ketidaktertiban dalam masyarakat, terutama kejadian-kejadian yang kelihatannya tidak saling berkaitan.

Bila kita amati lebih dalam, banyak masalah memiliki kesamaan karakteristik, contohnya dalam pola, korban, atau lokasi geografis.

Sebenarnya, pendekatan pemecahan masalah bukan sekedar model perpolisian. Pemecahan masalah adalah suatu strategi operasional yang bertujuan mengelompokkan kejadian-kejadian yang saling berhubungan sebagai suatu kelompok masalah, mencari akar penyebabnya, dan kemudian bersama dengan masyarakat memformulasikan pemecahan permasalahan secara khusus. Tujuannya adalah menangani masalah dan akar permasalahannya, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.

KriteriaMasalah

Suatu kejadian baru dapat dianggap sebagai masalah jika memenuhi dua kriteria berikut:

Kejadiannya terjadi berulang-ulang atau saling berkaitan.

Polisi maupun masyarakat prihatin terhadap permasalahantersebut.

Suatu masalah adalah dua kejadian atau lebih yang memiliki kemiripan dalam satu atau beberapa unsurnya, menyebabkan terjadinya kejahatan, ketakutan, atau ketidaktertiban. Suatu masalah bukan suatu kejadian yang tidak sama dengan suatu kejadian yang terjadi sekali saja atau yang tidak ada kaitannya dengan kejadian lain melainkan merupakan kejadian yang terjadi berulang kali atau salingberkaitan.

Jika ditemukan kejadian, telepon permintaan bantuan, pengaduan yang kemungkinan besar terulang kembali, atau berkaitan dengan kejadian- kejadian lainnya, maka hal ini sudah memenuhi syarat sebagai permasalahan yang harus





dipecahkan. Pencurian berulang pada alamat yang sama, pola pencurian kendaraan tertentu di satu daerah, serta telepon permintaan bantuan atau pengaduan yang berulang-ulang dari alamat yang sama, adalah contoh permasalahan yang perluditangani.

Umumnya tidak banyak jumlah kejadian yang hanya sekali terjadi yang menjadi perhatian anggota polisi. Semestinya kejadian-kejadian seperti ini ditangani tersendiri. Namun, umumnya kejahatan, kekacauan, dan ketakutan yang ada di masyarakat saling terkait satu sama lainnya. Misalnya, sudut jalan yang sering digunakan sebagai tempat penjualan narkoba pasti memicu berbagai problem keamanan untuk masyarakat sekitarnya. Jadi, setiap tindak kejahatan bukan terjadi sendiri-sendiri dan kejahatan biasanya terkonsentrasi.

Hubungan antara kejadian-kejadian yang saling berkaitan atau yang berulang dapat dilihat dengan cara memfokuskan pada karakteristik tertentu.

Fokus tersebut adalah:

Perilaku

Pelaku modus operandi yangsama.

Ciri-ciri korban sama yangditemukan.

Orang-orang yang memilki ciri-ciri yang sama seperti korbannya, pelakunya ataupelapornya.

Perilaku yang sama dari pelakunya, korbannya, atausaksinya.

Wilayah

Merupakan tempat-tempat kejadian yang terkait, di lokasi yang sama atau terkonsentrasi di wilayah tertentu. Misalnya, kecelakaan lalu lintas serius di perempatan jalan tertentu, pencurian di lingkungan tertentu, dan telepon pengaduan yang berasal dari alamat yang sama. Semua yang terjadiberulang-ulang.

Orang

Perhatikan masalah atau kejadian yang dilakukan atau diprovokasi oleh kelompok tertentu (misalnya, pengrusakan yang dilakukan oleh remaja).

Waktu

Dalam menilai suatu kasus tidak hanya secara kuantitas waktu tetapi lebih





cenderung kepada kualitasnya waktu itu sendiri, misalnya kejadian-kejadian itu  saling berkaitan, karena terjadi pada waktu- waktu tertentu dan pada jam tertentu dalam sehari atau pada hari tertentu dalam seminggu, atau pada suatu musimtertentu.

Penerapan PemecahanMasalah

Melalui penerapan pemacahan masalah, petugas kepolisian akan menghadapi tantangan baru dalam mempelajari fenomena-fenomena yang dihadapi dalam pekerjaan sehari-hari. Berbagai fenomena dilihat dari sudut pandang berbeda guna mendapatkan analisis yang tajam. Untuk itu, anggota polisi harus memilki keterampilan mengamati hal-hal yang sering membingungkan dalam kejadian-kejadian yang saling berkaitan, serta mencatat tren dan pola kejadian. Setelah itu, perlu dianalisis dan dipelajari tentang karakteristik fisik, sosial, dan lingkungan yang berpengaruh dalam membentuk pola dan tren tersebut. Anggota polisi diharapkan menerapkan pemecahan masalah untuk dapat menguraikan dan menangani berbagai sisi kejadian-kejadian dan kondisi yang membentuk permasalahanitu.

Pada praktiknya, polisi dalam mengurangi dampak permasalahan perlu menerapkan proses pemecahan masalah, seperti model SARE (Scanning, Analisis, Respon, dan Evaluasi), dan model-model lain sebagai alat untuk menangani hal-hal yang terkait dengan kejahatan, ketakutan, dan ketidaktertiban yang meresahkan warga  dan menjadi kebutuhan dan harapan masyarakat dan polisi setempat.

Pemecahan masalah, meliputi:

Identifikasi masalah-masalah kejahatan, ketidaktertiban, dan ketakutan di lingkunganwarga.

Memahami kondisi yang menyebabkan terjadinya permasalahanini.

Mengembangkan dan mengimplementasikan solusi jangkapanjang.

Menentukandampaknya.

Unsur-unsur penting dalam pemecahanmasalah:

Masalah adalah unsur dasar dalam pekerjaanpolisi.

Masalah berdampak pada masyarakat, tidak hanya padapolisi.

Pemecahan masalah mengharuskan polisi menanganinya secara menyeluruh bukan hanya penanganan yangcepat.

Masalah harus dideskripsikan secaraakurat.

Dibutuhkan investigasi yang sistematissebelum





membuat solusi.

Pertimbangkan semua kemungkinan munculnya respon atautanggapan.

Selesaikan masalah secaraproaktif.

Polisi harus diberi wewenang untuk melakukan diskresi dalam proses pemecahan masalah yang diterapkannya.

Menilai hasil-hasil respon yang baru dilaksanakan dan tidak hanya sekedar mengevaluasi aktivitas responnya.

Berbagai unsur penting dalam masyarakat, antara lain konsultasi, adaptasi, pelibatan, akuntabilitas, dan mandat yang lebih luas, tercakup dalam penerapan Polmas berbasis pemecahan masalah. Melalui analisis masalah yang dilakukan bersama dalam konteks sosial dan fisik tertentu, polisi dan masyarakat bersama-sama mencari jalan keluar. Mereka melaksanakan solusi yang dipilih serta mengevaluasinyabersama-sama.

Dalam konteks ini, berbagai usaha harus terus dilakukan polisi untuk melibatkan semua sumber daya masyarakat. Dengan demikian, permasalahan ketertiban sekaligus akar penyebabnya dapat dihilangkan.

Keuntungan tambahan Polmas berbasis pemecahan masalahadalah:

Polmas berbasis pemecahan masalah memungkinkan polisi untuk mencegah masalah di masyarakat dengan cara menangani akarpermasalahannya.

Polmas berbasis pemecahan masalah melibatkan anggota masyarakat dalam masalah yang terjadi di daerahnya dengan jalan keluarnya. Polmas berbasis pemecahan masalah dapat menumbuhkan dan memelihara kerja sama antara polisi dan masyarakat. Hal ini juga memperkuat kemitraan antara polisi dan masyarakat.

Polmas berbasis pemecahan masalah menciptakan kesempatan baru bagi staf operasional untuk mengembangkan dan menggunakan pengetahuan dan keterampilannya semaksimal mungkin. Dengan cara ini, Polmas berbasis pemecahan masalah mendorong penciptaan lingkungan kerja yang positif dan menantang, serta kepuasan kerja yang lebih besar.


Tujuan PemecahanMasalah


Menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan kemudian menganalisisnya dan akhirnya menelitikembali





hasilnya.

Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam sebagai hadiah intrinsik bagi siswa.

Potensi intelektual siswameningkat.



Faktor-faktor yang Harus Diperhatikan dalam Kegiatan PemecahanMasalah


Motivasi

Motivasi yaitu adanya dorongan atau keinginan individu untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapinya.

Kepercayaan dan sikap yangsalah

Asumsi yang salah terhadap kerangka tujuan yang cermat membantu efektivitas pemecahan masalah. Sikap terbuka terhadap informasi baru serta memahami dan mengakui kekeliruan dan mempermudah pemecahan masalah.

Kebiasaan

Kecenderungan untuk mempertahankan pola pikir tertentu, atau melibatkan masalah hanya dari satu sisi saja, atau kepercayaan yang berkelebihan dan tanpa kritis pada pendapat otoritas, menghambat pemecahan masalah yang efisien.

Emosi

Ketika menghadapi permasalahan secara tidak disadari emosi tertentu akan muncul dan mempengaruhi individu dalam menyelesaikan masalah. Berdasarkan uraian di atas, faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah yaitu faktor situasional, personal, biologis, dan sosiopsikologis (motivasi, kepercayaan dan sikap yang salah, kebiasaan, danemosi).

Matheny dkk (Rice, 1992) menjelaskan bahwa terdapat 5 (lima) sumber utama yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah sekaligus menghadapi tekanan, yaitu:

Dukungan sosial (social supports). Dukungan sosial dapat dikatakan sebagai elemen utama dalam melakukan coping. Dukungan sosial dapat memberikan efek penghalang/penyangga, yang melindungi seseorang dari dampak stress yang merugikan atau dapat berfungsi melalui sebuah dampak langsung yaitu dukungan sosial yang bermanfaat danmenguntungkan.

Keyakinan dan nilai (belief and value). Keyakinan dan nilai tertentu yang dianut akan menjadi sangat penting karena akan menuntun seseorang untuk menilai sebuah peristiwa sehingga dapat dinilai secarapositif.





Kontrol kepercayaan (confidance control) Rasa percaya diri yang ada pada diri seseorang untuk menentukan dalam melakukan pengambilan keputusan dalam situasi yang penuh tekanan. Hal ini memiliki kaitan erat dengan efikasi diri dan controlcoping.

Harga diri (self esteem). Harga diri berarti penerimaan dan penghargaan yang ada pada diri seseorang. Hal ini tidak berarti memilki makna yang sama dengan efikasi diri tapi secara teoritis harga diri akan meningkat seiring dengan meningkatnya self efficacy yangdirasakan.

Kebugaran (wellness). Merupakan kualitas kesehatan yang seseorang bisa nikmati, termasuk kesehatan fisik, tingkat energi, kontrol berat badan, dan menghindari perilaku yang beresiko tinggi mengancam kesehatan. Berdasarkan pemaparan di atas, maka disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan memecahkan masalah yaitu. dukungan sosial, keyakinan dan nilai, kontrol kepercayaan dan harga diri. Dukungan sosial selanjutnya dijadikan acuan dalam menyusun variabel bebas dalam penelitian ini yaitu dukungan teman sebaya.










POKOK BAHASAN 2 PEMECAHAN MASALAH KAMTIBMASDENGAN

PENDEKATAN PEMOLISIAN MASYARAKAT (POLMAS)


Masalah-masalahKamtibmas


Masalah Kamanan dan Ketertiban Masyarakat  (Kamtibmas) merupakan suatu kebutuhan dasar yang senantiasa diharapkan masyarakat dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari. Oleh karenanya, masyarakat sangat mendambakan adanya keyakinan akan aman dari segala  bentuk perbuatan, tindakan dan intimidasi yang mengarah dan menimbulkan hal-hal yang akan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat, yang dilakukan oleh orang-perorangan dan atau pihak pihak tertentulainnya.

Adanya rasa aman dan tertib dalam kehidupan masyarakat akan dapat memciptakan kehidupan yang harmonis dikalangan masyarakat dan yang tidak kalah pentingnya akan dapat meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari. Sebaliknya apabila kondisi strata masyarakat dihadapkan pada kondisi tidak aman akan mengganggu tatanan kehidupan bermasyarakat yang pada gilirannya pemenuhan taraf hidup akan terganggu.

Pada saat ini banyak kejadian-kejadian yang nyata-nyata telah meresahkan tatanan kehidupan masyarakat seperti tindak kriminal (penganiayaan, pencurian, pemerasan, pornografi dan kenakalan remaja) dan masalah perdata mengenai sengketa harta benda serta beberapa perselisihan dan perbedaan pendapat yang dapat mengancam Kamtibmas, maka kesiapan dan tindakan cepat dari Polisi sangat dituntut ada atau tidak adanya informasi dari masyarakat sebagai mitra Polisi dalam menciptakan dan meningkatkan Kamtibmas.


Keuntungan Pemecahan Masalah Kamtibmas dengan PendekatanPolmas


Unsur-unsur penting Polmas, antara lain. adanya konsultasi, adaptasi, mobilisasi, akuntabilitas dan mandat yang lebih luas. semuanya tercakup dalam penerapan pemolisian berorientasimasalah.

Melalui analisa masalah yang dilakukan bersama kelompok





atau pihak tertentu dalam masyarakat, polisi dan pihak-pihak tersebut mencari jalan keluar bersama melaksanakan serta melakukan evaluasi. Usaha-usaha terus dilakukan untuk memobilisasi (memberdayakan) semua sumber daya masyarakat, sehingga masalah dan penyebab/akarnya dapat diatasi.

Keuntungan pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatan Polmas sebagai berikut :

Pemolisian berorientasi masalah (PBM) memungkinkan polisi untuk mencegah masalah masyarakat (agar tidak terulang) dengan caramencari akar permasalahan dan pemecahanmasalahnya.

Pemolisian berorientasi masalah melibatkan masyarakat dalam menganalisa dan memecahkan permasalahan yang terjadi di daerahnya.Karena itu,  pemolisian  berorientasi masalah bukan hanya ”menyuburkan” kerjasama antara polisi dan masyarakat, tetapi juga membuat mereka realistik. Pemolisian seperti ini juga memperkuat kemitraan antara polisi danmasyarakat.

Pemolisian berorientasi masalah menciptakan kesempatan baru bagi staf operasional untuk mengembangkan dan menggunakan bakat mereka semaksimal mungkin. Dengan cara ini, pemolisian beroriensi masalah membantu menciptakan lingkungan kerja yang positif dan menantang serta kepuasan kerja yang lebihbesar.


Komponen Penting dalam Pemecahan Masalah Kamtibmas dengan PendekatanPolmas


Komponen penting dalam dalam pemecahan masalah Kamtibmas dengan Pendekatan Polmas sebagai berikut:

Masalah adalah unsur dasar dalam pekerjaanpolisi.

Permasalahan berdampak pada masyarakat, tidak hanya padapolisi.

Pemecahan masalah mengharuskan polisi menangani kondisi/keadaan secara menyeluruh, bukan hanya penanganan yangcepat.

Masalah harus dideskripsikan/digambarkan secaraakurat.

Dibutuhkan investigasi yang sistematis sebelum membuat solusi.

Pertimbangkan semua kemungkinan respon/tanggapan.

Menyelesaikan masalah secaraproaktif.

Polisi dapat melakukan diskresi dalam proses pemecahan masalah yangdilakukan.

Setelah dilakukan upaya pemecahan, menginventarisir kembali respon yang baru apakah pemecahan masalah yang diterapkan sudah tepat ataubelum.






Metode dan Teknik Pemecahan Masalah Kamtibmas dengan PendekatanPolmas


masyarakat bukan merupakan objek pembinaan, melainkan sebagai subjek dan mitra yang aktif dalam memelihara Kamtibmas di lingkungannya sesuai dengan hukum dan hak asasimanusia.

menitikberatkan pada upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap Polri melalui kemitraan yang didasari oleh prinsip demokrasi dan hak asasimanusia.

bersikap dan berperilaku sebagai mitra masyarakat yang lebih mengutamakan pelayanan, menghargai kesetaraan antara polisi dengan masyarakat serta mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengamankan lingkungannya.

membangun kepercayaan masyarakat dilakukan melalui komunikasi dua arah secara intensif antara Polri dengan masyarakat dalam kemitraan yang setara untuk pemeliharaanKamtibmas.

melaluiFKPM.










POKOK BAHASAN 3 PEMECAHAN MASALAH KAMTIBMASDENGAN

PENDEKATAN POLMAS MENGGUNAKAN METODE

SCANNING ANALYSIS RESPON EVALUATION (SARE)


Pengertian Metode SARE


Herman Goldstein, seorang profesor hukum dari Universitas Wisconsin menghabiskan waktu 40 tahun belajar dan bekerja dengan polisi, sehingga beliau dijuluki bapak Pemolisian Berorientasi Masalah. Bahkan sebenarnya semua usaha Pemecahan Masalah yang sekarang dilakukan di organisasi kepolisian di seluruh dunia dimulai/ didasarkan pada hasil karyanya.

Pada akhir tahun 1970-an, Goldstein menyarankan agar kepolisian merubah fokus mereka dari fokus internal (jumlah kendaraan, jumlah petugas, pola penempatan staf) ke fokus eksternal (bagaimana   pemolisian   berdampak    pada kejahatan, ketakutan, danketidaktertiban).

Herman Goldstein mendorong perubahan dari model pemolisian yang terlalu mengutamakan jumlah penangkapan atau jumlah surat perintah yang dikeluarkan (itu hanya dua dari sekian banyak contoh lainnya), ke model pemolisian yang mengutamakan bagaimana melakukan sesuatu yang mempunyai dampak pada kejahatan.

Kunci utama pemecahan masalah adalah pengetahuan, diperolehnya suatu pemahaman yang mendalam mengenai masalah yang menjadi target pemecahan. Masalah harus dianalisa secara mendalam, sehingga solusi yang direncanakan cocok untuk masalah tersebut. Solusi-solusi tidak dipilih secara acak, tetapi direncanakan sedemikian rupa atas dasar usaha yang seksama untuk menangani akar permasalahannya. Dalam prakteknya, proses pemecahan masalah sampai diperlukan dalam pemolisian berorientasi masalah, model SARE sebagai alat untuk menangani kejahatan, ketakutan, dan ketidaktertiban.


Tahapan Pemecahan Masalah MetodeSARE


Tahapan Model SARE dalam proses pemecahan masalah Untuk memecahkan suatu permasalahan diperlukan suatu cara





agar mudah dalam menemukan solusi-solusi dalam pemecahan masalah. Mungkin banyak cara yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan menggunakan model SARE yang meliputi 4 tahap, yaitu scanning, analisis, respon, dan evaluasi/penilaian.


Tahap 1: Scanning (identifikasi masalah) dalam Pemecahan Masalah MetodeSARE

Cara-cara yang mungkin digunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai kejahatan dan masalah kejahatan dari masyarakat dalam ”Tahap 1 - scanning”.

Perlu dicari pola-pola atau masalah yang berulang kali terjadi dalam masyarakat kita. Jika kita dapat memfokuskan usaha pemecahan masalah dengan memperhatikan hal-hal yang terjadi lebih dari satu kali, maka kemungkinan usaha kita dapat membuahkan hasil penting. Berbagai institusi kepolisian bergantung pada observasi anggota polisinya dalam mengidentifikasi masalah kejahatan dimasyarakat.

Cara-cara mengidentifikasi masalah kejahatan:

Surveipenduduk.

Pertemuanmasyarakat.

Wawancara individu dengan anggotamasyarakat.

Forum masyarakat yang khusus menangani masalah kejahatan.

Wawancara dengan pekerja dari instansi kota lainnya.

Informasi atau data dari instansi kotalainnya.

Pengaduan (masyarakat danpetugas).

Analisakejahatan.

Diskusi dengan jajaranpimpinan.

Diskusi dengan pengawas atausupervisor.

Diskusi dengan penyelidik ataudetektif.

Meninjau kembali data kejadian sebelumnya berdasarkan lokasi, kejahatan, atau catatantelepon.

Percakapan dengan petugas di ruang operator telpon.

Meninjau kembali informasi data-datakepolisian.

Informasi dari staf, polisi, divisi riset, dan perencanaan pemerintahsetempat.

Informasi dari kelompok-kelompok, organisasi, dan asosiasi nasional maupuninternasional.

Mediamassa.


Umumnya, permasalahan dapat diidentifikasi melalui analisis riwayat kejahatan di suatu wilayah dan analisis





terhadap data panggilan bantuan. Idealnya, sebuah pusat data harus dibangun sehingga semua data dapat disimpan dan dianalisis. Hal ini memungkinkan polisi untuk memperoleh gambaran secara lengkap tentang semua masalah yang ada di wilayah hukumnya. Gambaran menyeluruh ini juga dapat membantu polisi membuat skala prioritas permasalahan, karena tidak mungkin memecahkan semua masalah pada waktu bersamaan.

Walaupun masyarakat memegang peranan penting dalam mengidentifikasi dan memprioritaskan masalah, hal- hal berikut ini perlu diperhatikan:

Permasalahan yang diidentifikasi oleh kelompok- kelompok masyarakat atau Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) tidak secara otomatis dianggap sebagai permasalahan masyarakat secara luas, apalagi oleh masyarakat. Sehingga, perlu dicatat bahwa sedapat mungkin FKPM mewakili semua pemangku kepentingan/pihak yang ada di wilayah tersebut. Dalam beberapa hal, tingkat kekhawatiran masyarakat dapat juga diketahui melalui jajakpendapat.

Masyarakat sering lebih khawatir terhadap masalah- masalah kecil, seperti kebisingan, kendaraan yang ditinggal begitu saja, atau tuna wisma yang terlalu berani. Walaupun semua kekhawatiran tersebut dapat diterima, namun dari sikap warga yang terlalu membesar-besarkan, dapat disimpulkan bahwa mereka kurang mendapat informasi mengenai kejahatan serius dan dampaknya bagi lingkungan di mana pun mereka berada.

Akibatnya, polisi harus memberi informasi penting yang dibutuhkan masyarakat. Hal ini untuk menciptakan pandangan yang lebih seimbang mengenai permasalahan yang mereka hadapi. Tentunya, bukan berarti ketidaktertiban yang bukan tindak pidana harus diabaikan anggota polisi. Seringkali suatu masalah muncul hanya karena adanya konflik kepentingan antara kelompok yang berbeda dalam masyarakat. Misalnya, konflik antar kelompok partai politik, antar perusahaan taksi yang bersaing, atau antar pengusaha dan pedagang kaki lima.

Penting untuk diingat bahwa polisi maupun FKPM tak boleh memihak dalam menangani konflik tersebut. Petugas patroli hampir selalu berada dalam posisi untuk mengidentifikasi masalah yang timbul.

Petugas patroli memiliki informasi pertama mengenai





berbagai permasalahan yang ada dan mereka harus dijadikan bagian dalam proses pemecahan masalah. Mereka harus didorong untuk mengidentifikasi masalah dan menyarankan kemungkinan solusi. Tidak peduli apakah mereka menjadi bagian formal dari proses pemecahan masalah itu atau tidak. Kemampuan petugas patroli dalam mengidentifikasi masalah dapat diperkuat dengan menerapkan giliran jaga yang fleksibel dan mendorong dilakukannya kontak rutin dengan warga.

Riset adalah hal yang sangat penting bagi polisi untuk mencari solusi yang memberikan hasil mengesankan dalam melawan kejahatan, ketidaktertiban dan ketidaktenteramanan. Data berikut ini bisa menggambarkan betapa pentingnya riset.

Kejahatan biasanya terkonsentrasi pada:

Dari 55 persen kejahatan, 10 persen dilakukan oleh pelaku yangsama.

Dari 42 persen korban kejahatan, 10 persen diantaranya adalah korban yangsama.

Dari 60 persen permintaan pelayanan bagi polisi, 10 persennya berasal dari lokasi di satu wilayahhukum.

Mengetahui bahwa suatu kejahatan cenderung terkonsentrasi dapat membantu kita berpikir dan bertindak secara strategis. Jika kita dapat menyentuh pelaku yang melakukan kejahatan berulang kali di suatu tempat, juga warga yang menjadi korban, maka dampaknya terhadap penurunan tingkat kejahatan, ketidaktenteraman, dan ketidaktertiban dalam masyarakat akansignifikan.


MemilahMasalah.

Dari proses-proses pengidentifikasian masalah, secara tetap dapat diketahui berapa banyak masalah yang dapat tangani. Mengingat terbatasnya sumber daya yang dimiliki, maka penting bagi polisi untuk menentukan prioritas pemecahan masalah. Seperti kita ketahui, prioritas tak dapat diambil jika dampak dan tingkat keseriusan permasalahan belum diketahui. Oleh karena itu perlu dilakukan analisa awal sebelum memprioritaskanpermasalahan.

Analisis permasalahan setidak-tidaknya harus menjawab pertanyaan berikut:

Bagaimana bentuk dan luasnya permasalahan yangsebenarnya?





Apa dampak dan konsekuensi permasalahan tersebut?

Mengapa permasalahan tersebut harus ditangani?

Apa yang sedang dilakukan polisi terhadap masalah tersebut dan apahasilnya?

Siapa yang dapat diminta polisi untuk membantu mereka menangani permasalahantersebut?

Frekuensi

Pada tahun 1991, tercatat ada 11.835 kasus perampokan yang dilaporkan ke kantor polisi di Pretoria Utara, Amerika Serikat. Penelitian terhadap korban menemukan adanya 16.992 perampokan, menunjukkan tingkat resiko satu dari setiap 12 penduduk setempat. Penelitian terhadap jenis korban menunjukkan adanya 2.965 kasus perampokan toko atau pusat perdagangan. Dengan demikian, tingkat resiko mengalami perampokan adalah satu dari setiap 4,5 usaha yang didirikan.

TingkatKeseriusan

Ketika terjadi perampokan, selain terjadi pelanggaran terhadap keamanan seseorang, juga terjadi hilangnya barang-barang berharga. Penelitian terhadap para korban menunjukkan bahwa masyarakat lebih takut pada perampokan dibanding kejahatan lain.

Penduduk Pretoria Utara juga menganggap bahwa perampokan adalah kejahatan yang paling serius. Bukan semata karena kerugian material atau finansial yang diakibatkan, tetapi karena perampokan biasanya disertai kekerasan. Korban perampokan sering kali bereaksi keras dan mengungkapkan kekesalan bahwa mereka dan tempat tinggal mereka telah diobok-obok.

Ancaman relatif dari kelompok pelaku

Hanya sekitar 10 persen dari seluruh kasus perampokan yang berhasil diungkap. Selama tahun 1991, hanya 120 pelaku perampokan yang ditangkap. Rata-rata setiap pelaku yang tertangkap, terkait dengan sembilan kasus perampokan lainnya.

Potensipengurangan

Sekitar 30 s.d. 40 persen dari  kasus perampokan rumah penduduk yang dilaporkan menunjukkan bahwa perampok masuk melalui pintu atau jendela yang tidak dikunci. Memang diakui bahwa sulit untuk menekan jumlah perampokan secara signifikan. Alasannya, antara lainkarena





perampok cenderung memilih sasaran rumah yang terpencil hingga patroli pengamanan tidak menjangkau tempat itu. Namun, penekanan jumlah kasus perampokan mungkin bisa dilakukan dengan memperbaiki kualitas pengamanan pintu dan jendela. Kewaspadaan penduduk juga mesti ditingkatkan dengan kegiatan Kamtibmas, antara lain dengan Siskamling. Warga sering kali tidak melaporkan adanya perampokan (30 persen) kasus perampokan tidak pernah dilaporkan. Ini terjadi karena tidak semua orang yakin bahwa laporan yang dibuat akan ditangani dengan baik. Dengan demikian, melalui Siskamling, bisa dilakukan kampanye penyebaran informasi kepada warga mungkin dapat menolong memecahkan dilema keengganan pelaporankasus.

Sistemrespon

Pada saat ini, respon polisi terhadap masalah masih terbatas pada investigasi kejahatan secara reaktif dan meningkatkan patroli ke berbagai wilayah yang bermasalah. Sebaiknya respon semacam ini diperbaiki dengan pendekatan pemacahanmasalah.

Penentuan SkalaPrioritas

Setelah laporan pendahuluan tentang masing- masing permasalahan dibuat, polisi sebaiknya segera menentukan skala prioritas laporan penanganan masalah-masalah. Penentuan skala prioritas menyiratkan bahwa suatu masalah dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Oleh karena itu, sebelum masalah ditetapkan untuk diprioritaskan penanganannya, polisi harus lebih dulu menentukan kriterianya. Kriteria yang akan ditentukan harus dikonsultasikan dengan Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat. Hal ini penting dibahas mengingat kriteria tersebut harus merefleksikan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.

Faktor-faktor yang dipertimbangkan sebagai panduan dalam penentuan skala prioritas:

Dampakpermasalahan.

Seberapa besarpermasalahnya.

Berapa banyak orang yang terpengaruh oleh permasalahantersebut.

Kerugian apa yangditimbulkan. Tingkat keseriusanpermasalahan:

Seberapa besar bahaya, kerusakan, kekhawatiran masyarakat, atau kepekaan politik yangditimbulkannya.

Apa konsekuensinya bagi masyarakat danpolisi.

Apakah permasalahan tersebutberdampak





terhadap hubungan polisi dengan masyarakat.

Tingkat kerumitan permasalahan

Seberapa rumitpermasalahannya?

Apakah polisi mampumemecahkannya?

Apa dampaknya bagi polisi? Kemungkinan pemecahanmasalah:

Sejauh mana dampak yang dapat ditimbulkan oleh

upaya polisi memecahkan permasalahan tersebut. Keinginan untuk memecahkan masalah:

Keinginan untuk memecahkan masalah harus ditunjukkan, baik oleh polisi maupun oleh masyarakat. Sesudah faktor-faktor tersebut di atas dipertimbangkan dalam setiap permasalahan yang sudah diidentifikasi, buatlah daftar permasalahan yang sudah direvisi. Daftar tersebut kemudian harus diperiksa oleh panel evaluasi internal bersama FKPM. Selanjutnya, dibuatlah skala prioritas masalah yang harus ditangani.

b.     Tahap Analisa Pemecahan Masalah Metode SARE Analisis adalah tahap yang paling sulit dalammodel

SARE (Scanning, Analisis, Respon, dan Evaluasi). Proses ini bahkan sering dilewati polisi dan anggota masyarakat. Penyebabnya, mereka cenderung terburu-buru dan sangat bersemangat untuk mengembangkan solusi yang tepat waktu.

Padahal, tanpa memahami permasalahan yang sedang ditangani, akan ada risiko yang besar terhadap solusi yang dikembangkan. Solusi yang dipilih mungkin saja tidak akan ada gunanya untuk jangka panjang.

Permasalahan pun tersebut akan tetap ada karena pemecahannya berdasarkan dugaan, bukan fakta.

Pola kejadian juga membutuhkan analisis. Permasalahan jarang berkembang hanya dalam waktu yang singkat, dan solusi yang cepat jarang yang dapat menghilangkan permasalahan tersebut. Jika polisi tidak melakukan analisis, polisi cenderung bergantung pada solusi standar polisi model lama, seperti patroli yang terarah atau berjalan kaki.

Kehadiran polisi jarang menjadi solusi terbaik untuk suatu permasalahan. Hal ini umumnya mengindifikasikan tidak dilakukannya analisis secara menyeluruh atau polisi masih merasa lebih nyaman dengan perpolisian model tradisional.

Tujuan dari menganalisis masalah adalah untuk mengidentifikasi dan memahami faktor-faktor yang





menyebabkan timbulnya masalah, yang mendukung terulangnya masalah dan yang menghambat penanganannya. Sekali sudah diidentifikasikan, faktor- faktor tersebut menjadi target potensial untuk diubah, karena strategi dirancang untuk memperbaiki atau memperkecil dampak masalah tersebut.

Tujuan analisis masalah/mencari penyebab, adalah sebagaiberikut:

Menentukan penyebabmasalah.

Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhimasalah.

Membedakan gejala denganpenyebab.

Analisis yang tepat terhadap suatu masalah juga penting, karena memberikan petunjuk tentang solusi- solusi yang mungkin dapat digunakan dalam pemecahan masalah tersebut. Menurut Goldstein (1990:82): “Analisis masalah harus berupa pemeriksaan yang luas, yang tidak dipengaruhi oleh pendapat lama, pertanyaan harus diajukan, walaupun jawaban belum tentu ada. Pertanyaan yang terbuka dan konsisten tidak sama dengan pertanyaan yang diajukan seorang detektif senior untuk memecahkan suatu misteri kejahatan, mencoba mencari ke semua arah, mendalam, dan menggunakan pertanyaan yangtepat.“

Panduan analisismasalah

Informasi yang dibutuhkan ketika menganalisis masalah dapat diperoleh dan menjadi bermanfaat jika polisi membuat daftar yang sistematis. Dalam mengelola proses pengumpulan informasi, harus difokus pada:

Orang-orang yang terlibat, seperti korban, pelaku, dansaksi.

Informasi kejadian, seperti kronologis kejadian, konteks fisik dan sosial di mana kejadian itu terjadi, sertaefeknya.

Respon dan reaksi masyarakat dan lembaga- lembaga masyarakat, termasuk tindakan yang dilakukan polisi sampai saat pengumpulan informasi.

Panduan dan pertanyaan berikut dapat membantu dalam menganalisis masalah.

Menganalisis orang-orang yangterlibat

Masalah biasanya timbul dari interaksi antar sesama. Seseorang bisa melakukan tindakan yang mengakibatkan ketakutan atau kerugian pada orang lain. Kadang-kadang tindakan tersebut menimbulkan





reaksi dari orang-orang yangterpengaruh.

Untuk memahami suatu masalah, polisi harus mulai dengan mengidentifikasi siapa saja orang- orang yang terlibat, apa yang mereka lakukan, bagaimana mereka bereaksi, dan apa pengaruh dari tindakan-tindakan tersebut. Beberapa masalah mungkin hanya melibatkan sebagian orang dan masalah yang lain mungkin melibatkan seluruh masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi siapa yang terlibat dalam suatu masalah itu dan dalam hal apa diaterlibat.

Pelaku:

Cobalah untuk mengetahui dan mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan pelaku, sebagai berikut:

Motivasi.

Identitas atau deskripsifisik.

Usia, suku dan jender (untuk tujuan identifikasi).

Latar belakang sosial, termasuk gaya hidup, pendidikan, dansejarah.

Pekerjaan.

Catatan kejahatan (sejarahnya sebagai pelaku).

Modus operandi.

Faktor-faktor pendorong yang mempengaruhi perilaku, seperti pecandu narkoba ataualkohol.

Korban:

Cobalah untuk mengetahui dan mengumpulkan informasi berikut sehubungan dengan korban, sebagai berikut:

Tindakan pengamanan yangdilakukan.

Sejarah korban (bagaimana ia sampai menjadikorban).

Suku, usia, jender, afiliasi politik (jika sesuai denganmasalah).

Reaksinya ketika menjadikorban.

Hubungan denganpelaku.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja sama denganpolisi.

Instansi medis yang dapat dirujuk.

Konseling yangdibutuhkan.

Pihakketiga:

Sering ditemukan bahwa ada orang, selain korban dan pelaku, yang juga ikut terlibat. Beberapa dari mereka mungkin saja berlaku





sebagai saksi, pendukung korban, atau pendukung si pelaku. Untuk mengetahuinya, cobalah kumpulkan informasi-informasi mengenai pihak ketiga mengenai hal-hal berikut ini:

Identifikasi.

Keterlibatan dan kepentingan terhadap masalah.

Faktor-faktor yang berdampak pada kerja sama mereka denganpolisi.

Hubungannya dengan korban dan atau pelaku.

Segitiga kejahatan

Segitiga kejahatan menawarkan cara yang mudah untuk memahami dan menvisualisasikan masalah kejahatan. Segitiga kejahatan juga menyediakan cara yang mudah untuk menjelaskan tahap analisis dengan menggunakan model SARE dan dapat membantu peserta membuat suatu analisis. Ketiga elemen yang disebutkan sebelumnya dipakai untuk mengilustrasikan bahwa suatu tindak kejahatan terkonsentrasi, yakni pelaku, korban, dan lokasi. Ketiga unsur tersebut bersama-sama membentuk satu segitiga kejahatan.

Setelah mengetahui siapa yang berada pada tiap sisi dari segitiga kejahatan tersebut, perlu dilakukan analisis sebelum menyiapkan strategi-strategi untuk memecahkan masalah tersebut. Perlu dicari keterangan sebanyak mungkin mengenai korban, pelaku dan TKP untuk mengembangkan pemahaman tentang apa yang menjadi penyebab masalah tersebut. Pertanyaan-pertanyaan harus diajukan dan dijawab oleh pihak-pihak yang berada pada tiap sisi dari segitiga kejahatan tersebut. Cara yang mudah untuk memulai adalah dengan menanyakan siapa, apa, kapan, dimana, bagaimana, mengapa ”ya”, dan mengapa ”tidak”.

Menganalisis InformasiKejadian

Menganalisis informasi seputar kejadian meliputi lebih dari sekadar memusatkan perhatian pada apa yang masing-masing aktor lakukan. Hal tersebut meliputi melihat secara keseluruhan kontek sosial dan fisik darisebuah





kejadian atau berbagai kejadian.

Analisis kronologis,meliputi:

Apakah kejadian tersebut terkait dengan waktu-waktu tertentu pada haritersebut.

Apakah kejadian-kejadian tersebut terkait pada hari-hari tertentu dalam satu  minggu. Contoh, kekerasan dalam rumah tangga paling sering terjadi pada akhir pekan, terutama pada akhirbulan.

Apakah kejadian-kejadian tersebut terkait pada peristiwa-peristiwa tertentu. Contoh: pertandingan olahraga, hari gajian, liburan sekolah, danlain-lain.

Apakah kejadian-kejadian tersebut menunjukkan variasi bulanan atau musiman?Mengapa?.

Situasi TKP dan waktukejadian:

Apakah wilayah berbahaya (hot spot) tersebut dapat diidentifikasi? Dengan kata lain, apakah kejahatan tersebut terkelompok pada suatu lokasi tertentu? Bagaimana menjelaskan daerah berbahayatersebut?.

Dimana kejadian tersebut berlangsung? di dalam rumah, di luar rumah, kendaraan pribadi, kendaraan umum, lokasi yang sepi, danlain-lain?.

Apakah ada hal yang berkaitan dengan lokasi yang memberikan kontribusi pada kejadian?, misalnya, bangunan yang ditinggalkan, bahaya lingkungan, tempat- tempat yang penting bagi aktivitas masyarakat, kemungkinan tempat persembunyian, danlain-lain.

Dapatkah lingkungan fisik tersebut dimodifikasi untuk mencegah permasalahan tersebut terjadilagi?.

KontakSosial:

Pelaku dan korban termasuk dalam kelompok apa? Apakah kelompok- kelompok tersebut sedang dalamkonflik?.

Kepentingan-kepentingan apa yang memotivasipelaku?.

Apa tindakan-tindakan korban yang membuatnya tidak berdaya sehingga mudahdiserang?.

Apakah faktor-faktorsosio-demografis





berpengaruh terhadap masalah tersebut? contohnya, tidak ada toleransi sosial, intimidasi, rasa takut, kurangnya persatuan masyarakat, danlain-lain.

(5) Bagaimana saksi–saksi atau saksi-saksi potensial bereaksi terhadap masalah tersebut? Mengapa mereka bereaksi seperti itu?.

Urut-urutanKejadian:

Apa yang dilakukan pelaku? Kepada siapa? Bagaimana? Kapan?Dimana?.

Rangkaian kejadian seperti apa yang menimbulkan masalahtersebut?.

Apakah alkohol, narkoba, atau faktor- faktor lain memberikan kontribusi terhadap terjadinya masalah tersebut? Bagaimana bisaterjadi?.

Akibat darikejadian:

Apa akibat dari masalah tersebut, misalnya: kematian, cedera, kerusakan harta benda, kerugian finansial, intimidasi?.

Menganalisis Respon

Instansi ataulembaga:

Bagaimana lembaga masyarakat dan instansi swasta, termasuk polisi, melihat masalah ini? Apa yang telah mereka lakukan? Apa hasilnya? Apa yang mungkin mereka ingin lakukan sekarang? Faktor-faktor apa yang mempengaruhi respon polisi terhadap masalah tersebut? Isu-isu hukum apa yang mempengaruhi masalah tersebut? Instansi-instansi mana (publik atau swasta) yang dapat membantu polisi dalam memecahkan masalahtersebut?

Masyarakat:

Bagaimana anggota masyarakat melihat masalah tersebut? Apa yang telah mereka lakukan? Apa hasilnya? Apa yang akan mereka lakukan sekarang? Apakah mereka bersedia untuk bekerja bersama dengan polisi? Bila ya, bagaimana? Bila tidak, mengapa?.

Keseriusan:

Apakah ini sebuah masalah serius yang memerlukan respon yang serius pula? Bila tidak, mengapa? Apabila serius, bagaimana





membuat masyarakat dan instansiatau lembaga terkait dapat mengetahuinya? Apabila itu bukan masalah yang serius, apa yang harus dilakukan? Apakah masyarakat menyadari dampak yang ditimbulkan dari masalah tersebut terhadap masyarakat?.


Sumber-sumber informasi yang memungkinkan Guna mencari jawaban dari pertanyaan- pertanyaan tersebut, berbagai macam sumber informasi yang mungkin bisa digunakan antara lain:

Bahan bacaan yang relevan: Perkembangan penelitian atas kejahatan dan perpolisian baru-baru ini telah menciptakan sekumpulan informasi relevan yang berharga. Informasi ini sangat membantu terutama dalam memberikan kemungkinan solusi-solusi untuk menangani berbagai macam masalah. Namun sayangnya, informasi seperti ini jarangdimanfaatkan.

Arsippolisi:

Polisi mengumpulkan, mengarsip, dan memproses sejumlah besar informasi mengenai berbagai masalah. Sayangnya, informasi tersebut seringkali dikumpulkan untuk tujuan-tujuan yang tidak ada kaitannya dengan pemecahan masalah. Akibatnya, data-data polisi perlu disesuaikan untuk dapat digunakan dalam analisis pemecahan masalah. Sebagai contoh, bila polisi ingin mengidentifikasi adanya panggilan berulang yang meminta pelayanan polisi, mungkin penting untuk memprogram ulang sistem informasi komputerisasi di Unit Pengendali Radio (Radio Control Unit). Dianjurkan untuk mendiskusikan kumpulan data dan kebutuhan analisis yang ada dengan Reskrim Polda. Mereka mungkin dapat membantu dalam mengembangkan sistem-sistem yang diperlukan.

Anggotapolisi:

Pengetahuan pribadi anggota polisi yang didapat dari pengalaman di lapangan seringkali  berguna. Oleh karena  itu,setiap





usaha seharusnya dilakukan untuk mengumpulkan informasi langsung dari anggota polisi yang berurusan atau terkait dengan masalah tertentu. Perhatian khusus harus diarahkan pada cara-cara informal yang digunakan polisi dalam menangani masalah tertentu.

Satuan kepolisianlainnya:

Kadang-kadang, masalah yang dipilih untuk dianalisis mungkin telah ditangani sebelumnya oleh unit atau bagian-bagian lain dalam kepolisian. Informasi, analisis, dan strategi-strategi yang digunakan oleh unit lain tersebut mungkin dapat dijadikan petunjuk tentang masalah yang dihadapi. Serangkaian informasi ini bahkan bisa digunakan sebagai bahan mencari usulan kemungkinan solusi alternatif.

Sumber-sumber dalammasyarakat:

Berbagai informasi ada dalam masyarakat sangat berharga. Sumber- sumber informasi ini meliputi korban, pengadu, saksi, agen-agen masyarakat, dan lembaga-lembaga masyarakat.

Informasi yang berharga bisa diperoleh dengan cara mengajukan pertanyaan kepada mereka yang terkena pengaruh dengan mengadakan pertemuan publik dengan kelompok-kelompok masyarakat dan berkonsultasi dengan FKPM setempat. Bisa juga dengan mencari informasi dari berbagai lembaga pemerintahan, seperti pemerintah daerah dan DPRD serta berbagai informasi dari berbagai aspek kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar. Informasi ini seringkali selalu siap dan bebasdiakses.

Pelaku:

Pelaku adalah sumber informasi yang penting dan harus ditanyai tentang:

Modus operandi dan motivasi mereka.

Mengapa sebuah pelanggaran dilakukan pada satu waktuspesifik.

Alasan dipilihnya targettertentu.

Rute pelarian yangdigunakan.

Cara membuang barangbukti.





Tahap Respon Pemecahan Masalah Metode SARE ResponadalahtahapketigadalammodelSARE

(Scanning, Analisis, Respon, dan Evaluasi). Masalah akan tetap ada bila dalam solusi jangka panjang tidak dicari penyebab utamanya. Kreativitas juga dianjurkan. Cobalah mengarahkan masyarakat untuk menggunakan pelindung yang ada semaksimal mungkin.

Agar terlaksana secara efektif, solusi yang dipilih harus mempengaruhi minimal dua sisi dari Segitiga Kejahatan. Mengusahakan solusi hanya pada sisi pelaku saja seringkali tidak efektif, tidak jarang malah memberi peluang terhadap adanya pelaku baru untuk  menggantikan pelaku yang lama. Ini mungkin saja terjadi karena belum ada tindakan yang dilakukan polisi untuk mengubah sarang kejahatan atau posisi korban sebagai target buruan. Penanganan harus dilakukan di dua sisi  dari segitiga kejahatan demi terciptanya solusi yang efektif dan berjangkapanjang.

Masyarakat dan polisi seringkali tergoda untuk menerapkan solusi yang dikembangkan di lingkungan masyarakat lain untuk masalah serupa di komunitas mereka sendiri. Namun, harus diperhatikan bahwa solusi dari luar jarang sekali sempurna dan cocok untuk semua komunitas. Faktor penyebab harus dianalisis untuk menguji apakah faktor-faktor tersebut sesuai dengan solusi yang digunakan dalam lingkungan masyarakatlain.

Kadangkala, masalah kejahatan masyarakat sangat berat sehingga harus segera dipecahkan sebelum masalah tersebut berkembang. Keadaan mungkin sangat berat bagi mereka yang terpengaruh masalah tersebut. Harus diingat, walaupun solusi jangka pendek penting sekali, namun solusi jangka panjang juga harusdikejar.

Sebagai tambahan, dampak masalah tersebut terhadap masyarakat secara spesifik harus mempengaruhi bentuk solusi yang dipilih. Solusi yang paling baik adalah apabila solusi tersebut dapat membuat masyarakat mampu menangani masalah kejahatan serupa di masa datang dengan lebihbaik.

Rumusan tentang sebuah paket respon strategis mewakili inti dari pemecahan masalah dan dilakukan dalam 4 (empat) langkah, sebagaiberikut:

Langkah 1 : Identifikasimasalah

Setiap saat, strategi pemecahan masalah seharusnya bersifat spesifik untuk sebuah masalah. Strategi harus diarahkan untuk memecahkan suatu





masalah tertentu. Tidak semua strategi bisa diharapkan dan memberikan hasil yang sama.

Berikut ini adalah tujuan-tujuan strategis yang dapat dipertimbangkan ketika mengembangkan strategi pemecahan masalah:

Solusi-solusi dirancang untuk mengatasi masalah.

Solusi-solusi dirancang untuk mengurangi masalah secarasubstansial.

Solusi-solusi dirancang untuk mengurangi bahaya atau dampak sebuahmasalah.

Solusi-solusi dirancang untuk meningkatkan respon polisi terhadap suatumasalah.

Solusi-solusi dirancang untuk menegaskan, mengarahkan kembali, dan mengatasi permasalahan.

Sangat penting menentukan sasaran yang realistis dan menerima kenyataan bahwa polisi tidak akan mampu memindahkan gunung. Dengan merinci sebuah masalah yang besar dan kompleks menjadi sub-sub masalah yang lebih kecil, seperangkat sasaran yang lebih realistis, terukur dan dapat dikembangkan.

2) Langkah 2 : Mengidentifikasi Kemungkinan Solusi Tujuan pemecahan masalah adalah

menangangi masalah dan penyebabnya, baik dalam jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang.

Mencari kemungkinan solusi harus dilakukan dengan berpikir luas dan bebas. Sangat penting untuk berpikir luas dan tidak membatasi diri dengan respon polisi yang tradisional, yakni semata-mata meningkatkan patroli dan jumlah penahanan. Polisi harus kreatif. Permasalahan perlu dilihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda, menggunakan imajinasi dan jangan membatasi respon hanya pada sebuahtaktik!

Harus ditekankan bahwa langkah ini tidak melibatkan evaluasi terhadap solusi-solusi yang mungkin ada. Sehingga, pemecahan harus disajikan tanpa memikirkan kegunaan atau keberhasilan solusi tersebut. Untuk menemukan solusi yang baik, mungkin ada baiknya membahas bersama rekan- rekan sekerja.

Kemungkinan-kemungkinan di bawah ini bisa dipertimbangkan ketika sedang mencari solusi sebagai panduan terhadap solusi-solusi yang





memungkinkan, seperti:

Strategi yangterfokus

Adakalanya analisis masalah mengungkapkan adanya individu atau  kelompok tertentu yang bertanggung jawab dalam menciptakan masalah di masyarakat secara tidak proporsional. Bisa pula analisis masalah menunjukkan adanya beberapa lokasi (wilayah berbahaya) menjadi pusat aktivitas bermasalah. Pada kondisi demikian, usaha yang ditujukan untuk mengatasi individu, kelompok, atau perbaikan keadaan di lokasi- lokasi yang dimaksud mungkin saja merupakan bagian dari usaha pemecahan masalah atau solusi. Strategi yang terfokus bisa digunakan untuk menangani masalah,seperti:

Pelaku kejahatan yang berulang (residivis).

Orang yang sering menjadikorban.

Sumber panggilan bantuan yangberulang.

Kelompok yang berisiko tinggi menjadi korban.

Kelompok yang sangat potensial melakukankejahatan.

Kerja sama antar instansi ataulembaga.

Banyak masalah yang dihadapi polisi yang merupakan bagian dari tanggung jawab instansi pemerintah atau swasta lainnya. Misalnya: sekolah, pengadilan, kejaksaan, pegawai kesehatan, lembaga-lembaga rehabilitasi, dinas pelayanan sosial, dan departemen perhubungan. Badan-badan pemerintahan dan swasta lainnya juga harus berbagi tanggung jawab mengendalikan perilaku anti sosial atau, setidaknya, memiliki kapasitas untuk membantu meringankan masalah yang dihadapipolisi.

Kerja sama antar instansi dapat dilakukan dalam beberapa bentuk, seperti:

Menyerahkan pengaduan kepada instansilain.

Mengkoordinasikan tindakan yang akan dilakukan dengan instansi terkait.

Meminta pelayanan lebih atau pelayanan khusus dariinstansi





terkait.

Strategi-strategi mediasi dannegosiasi

Konflik antar individu atau kelompok seringkali menjadi sumber kekacauan, bahkan kejahatan. Polisi berada pada posisi yang unik untuk memecahkan masalah-masalah tersebut melalui strategi mediasi dan negosiasi. Pada beberapa situasi, daripada melakukan pemecahan sesuai dengan prosedur hukum, pendekatan dengan mediasi dan negosiasi sebagai sumber daya polisi jauh lebih efektif.

Komunikasi denganmasyarakat

Polisi kadangkala mengendalikan masalah secara efektif hanya dengan menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat. Strategi komunikasi bisa digunakan untuk:

Mendidik masyarakat mengenai tingkat keseriusan sebuahmasalah.

Mengurangi rasatakut.

Menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat untuk membantu mereka agar patuh terhadap hukum atau memecahkan masalah merekasendiri.

Menunjukkan kepada masyarakat tentang bagaimana mereka memberikan kontribusi dalam memecahkanmasalah.

Memperingatkan mereka yang mempunyai potensi menjadi korban tentang kerentanan mereka dan menyarankan kepada mereka mengenai cara-cara melindungi diri merekasendiri.

Menjelaskan kemampuan dan keterbatasan polisi dalam memecahkan masalah-masalahmereka.

Mengatur dan membantu masyarakat agar terlibat secara langsung dalam memecahkan masalah-masalahmereka.

Sebenarnya, solusi bagi beberapa permasalahan ada dalam kapasitas masyarakat itu sendiri. Polisi harus mendorong warga masyarakatnya untuk terlibat dalam pemecahan masalah mereka sendiri.

Mengerahkan masyarakat dapat dilakukan dengan cara:

Membentuk sistem keamanan lingkungan atau patroliwarga.

Merekrut dan menggunakantenaga-




tenaga sukarela.

Mengaktifkan kelompok-kelompok minat tertentu.

Mengikutsertakan korbankejahatan.

e) Mendukung hubungan yang telah ada di antara mereka untuk terlibat dalam pengawasan masyarakat

Cara ini untuk mempengaruhi dan mengontrol tingkah laku orang-orang yang bertanggung jawab dalam menimbulkan masalah.

Polisi perlu mengidentifikasi dan melibatkan anggota masyarakat, misalnya orang tua, manajer apartemen, kontraktor, dan pemilik bangunan, yang mungkin berada pada posisi yang kuat untuk mempengaruhi perilaku pelaku. Orang-orang yang tepat mungkin dapat membantu pengawasan, secara intensif dalam waktu yang lama, individu-individu yang menimbulkan masalah. Mengubah lingkungan fisik untuk mengurangi kemungkinan terjadinya masalah-masalah. Pendekatan ini seringkali dikenal juga sebagai “pencegahan kejahatan situasional”.

Tujuannya untuk memodifikasi dan mengatur lingkungan fisik sedemikian rupa dalam rangka mengurangi kesempatan timbulnya kejahatan, meningkatkan resiko, dan upaya yang ada hubungannya dengan pelanggaran dan mengurangi keuntungan yang didapat oleh pelaku kejahatan.

Hal itu dapat dicapai dengan menggunakan teknik sebagaiberikut:



DUA BELAS TEKNIK PENCEGAHAN KEJAHATAN SITUASIONAL


MENINGKATKAN USAHA

MENINGKATKAN RISIKO

MENGURANGI KESEMPATAN


1. Menperkuat perlindungan diri sasaran (TargetHardening)

5. Memeriksa masuk dan keluar

9. Memindahkan sasaran


2. Mengawasi/ kontrol akses

6. Meningkatkan pengawasan formal

10. Memberikan tanda barang-barang berharga.




PEMECAHANMASALAH 39 DIKBANGSPESHARKAMTIBMASFUNGSITEKNISBINMAS



3. Mengalihkan perhatian pelaku

7. Meningkatkan pengawasan oleh karyawan

11. Menghilangkan pemicu


4. Mengawasi alat-alat yang dapat digunakan untuk melakukan kejahatan (Clarke 1992 : 10 21)

8. Meningkatkan pengawasan informal

12. Menggunakan peraturan


Keterangan gambar 1. Tabel. dua belas teknik pencegahan kejahatan situasional :

Memperkuat perlindungan dirisasaran

Cara yang paling mudah untuk mengurangi kesempatan bagi tersangka adalah dengan menggunakan hambatan- hambatan fisik. Pengamanan target tidak lain adalah penggunaan kunci pengamanan, perimeter antimaling, dan pemasangan rintangan yang ditujukkan untuk mencegah atau menghalangi akses menuju suatu tempat atau barang- barang berharga.

Mengawasi atau kontrol akses

Pengawasan terhadap akses masuk-keluar bertujuan untuk mengatur akses menuju ke sebuah tempat atau sistem. Hal tersebut biasanya dilakukan dengan cara memasang kunci kode atau penjagaan pada pintu masuk. Kontrol akses menuju sistem komputer biasanya menggunakan password.

Mengalihkan perhatianpelaku

Ini adalah upaya pengalihan perhatian pelaku dari melakukan perbuatan yang merugikan orang lain ke arah perbuatan yang lebih positif. Menyediakan fasilitas-fasilitas olahraga kepada pemuda-pemuda yang suka membuat masalah dapat dilihat sebagai contoh pendekatan ini.

Mengawasi alat-alat yang dapat digunakan untuk melakukankejahatan

Berbagai benda, misalnya pisau dan senjata api,  berpotensi mendorong seseorang untuk melakukan kejahatan dan mengacaukan ketertiban. Dengan menghilangkan atau mengontrol penggunaan benda-benda serta situasi tersebut, kejahatan dan ketidaktertiban dapat dicegah.

Memeriksa Masuk danKeluar

Pemeriksaan pada pintu masuk berbeda dengan kontrol akses. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi siapa yang tidak memenuhi persyaratan untuk masuk, ketimbang melarang atau menghalangi orang untuk masuk. Persyaratan-persyaratan ini berkaitan dengan pembawa barang-barang atau benda-benda yang dilarang (misalnya senjata api) atau alternatif lain, kepemilikan tiket, atau dokumen-dokumen. Pemeriksaan pada pintu keluar


PEMECAHANMASALAH 40 DIKBANGSPESHARKAMTIBMASFUNGSITEKNISBINMAS




berguna untuk menghalangi pencurian dengan cara mendeteksi benda-benda yang seharusnya tidak boleh dipindahkan dari daerah yang dilindungi seperti benda- benda toko yang belum dibayar.

Meningkatkan pengawasanformal

Personel yang fungsi utamanya menghalangi niat pelaku kejahatan terdiri dari polisi, satpam, dan penjaga toko. Merekalah yang berfungsi penting dalam menyediakan pengawasan formal. Peranan pengawasan mereka bisa ditingkatkan melalui penggunaan perangkat elektronik seperti: sistem alarm, kamera pengawas, dan perubahan tata ruang bangunan.

Meningkatkan pengawasan olehkaryawan

Karyawan, terutama yang bekerja dengan orang banyak, tanpa disadari ikut melakukan pengawasan.

Meningkatkan pengawasaninformal

Pengawasan informal didasarkan pada asumsi bahwa anggota masyarakat akan mengenali pelaku kejahatan dan segera melaporkan hal tersebut kepada polisi. Meningkatkan pengawasan informal adalah sasaran utama dari gerakan penjagaan keamanan lingkungan.

Memindahkansasaran

Pemindahan target berhubungan dengan pengamanan target yang mengacu pada pemindahan benda-benda berharga ke lokasi yang lebih aman. Toko-toko musik, misalnya: sering memindahkan Compact Disc (CD) dari kotak dan hanya memperlihatkan sampulnya untuk mencegah pencurian.

Memberikan tanda pada barangberharga

Harta benda yang telah ditandai mengurangi manfaat bagi si pelaku dan meningkatkan resiko bagi pencuri. Hal ini disebabkan:

Lebih sulit untukdijual.

Mudah dikenali sebagai barangcurian.

Pemilik yang sah bisadilacak.

MenghilangkanPemicu

Tindakan ini berkaitan dengan dialihkannya perhatian seseorang dari keinginan untuk melakukan tindakan buruk atau jahat. Misalnya, selalu membersihkan tembok dari coretan-coretan. Sebab, dengan membersihkan coretan- coretan tersebut kita menghilangkan rasa senang si pelaku yang ingin memamerkan hasil karyanya.

MenggunakanPeraturan

Sebagian besar organisasi dan instansi memiliki aturan mengenai perilaku pekerja, anggota, dan pengunjung. Seringkali peraturan ini bisa digunakan untuk mencegah perbuatan yang melanggar aturan.





Penegakkan hukum dan penuntutan yang selektif Walaupun pemecahan masalahmendorong

digunakannya respon yang tidak tradisional, bukan berarti respon tradisional layak ditiadakan sama sekali, penegakan hukum dan proses penuntutan tetap harus dilakukan. Dalam beberapa hal, penegakan hukum dan proses penuntutan adalah satu-satunya solusi yang efektif dalam pemecahanmasalah.

Penegakan hukum bisa diterapkan melaluibeberapa cara:

Penegakan hukum dan penuntutan yang tak selektif. Alternatif ini mengacu pada proses tradisional dalam mengidentifikasi, menangkap, dan menuntut semua pelakupelanggaran.

Penegakan hukum dan penuntutan yang selektif serta sesuai panduan tertentu. Alternatif ini merujuk pada polisi yang mengambil tindakan keras, ketika pelanggaran tertentu ditangani intensif dengan alasan khusus. Alternatif ini sering digunakan sebagai solusi jangka pendek terhadap masalah-masalah seperti prostitusi, menyetir dalam keadaan mabuk, dan perdagangan minuman kerasilegal.

Penegakan hukum yang biasanya dilakukan oleh instansi atau lembaga lain. Ketentuan hukum, peraturan, dan ordonansi biasanya ditegakkan oleh instansi lain seperti undang- undang konservasi lingkungan dan peraturan daerah. Hukum, peraturan, dan ordonansi tersebut dapat juga ditegakkan oleh polisi. Instansi terkait juga dapat diminta untuk menegakkannya.

Penggunaan hukum dan peraturan non pidana. Banyak persoalan yang muncul, diatur dalam berbagai hukum, peraturan-peraturan, undang- undang publik, dan statuta. Peraturan-peraturan serta undang-undang tersebut dapat digunakan polisi untuk membantu memecahkan masalah. Peraturan-peraturan tentang bangunan, misalnya, dapat digunakan untuk menegakkan tindakan pencegahan kejahatan. Peraturan mengenai kebisingan suara dapat pula digunakan untuk menangani penyewa kamar yang susah diatur, peraturan mengenai kesehatan dan dapat digunakan untuk mengatasi masalah di rumah susun atau bangunan lain untuk mencegah terlalupadatnya





tingkat hunian bangunan dan mencegah peredaran narkoba.

Pemerintah kota dan pembuat peraturan hukum lain yang berwenang dapat juga diminta untuk mengatur berbagai bentuk perilaku masyarakat atau pelaku kejahatan dengan cara menerapkan peraturan, ordonansi, atau undang- undang baru yang lebih ketat:

Mengatasi secara langsung kondisi sosial dan ekonomi yang berimbas pada perilaku bermasalah. Apabila polisi dapat mengidentifikasi dengan cepat berbagai kondisi sosial dan ekonomi dalam masyarakat yang mendorong timbulnya masalah, maka mungkin polisi sendiri dapat mencegah masalah di masa datang dengan bekerja untuk mengubah kondisi tersebut. Mengadakan kegiatan-kegiatan waktu luang yang konstruktif bagi remaja adalah salah satu contoh dari pendekatanini.

Memastikan agar kehadiran polisi lebih terlihat. Agar kehadiran polisi dapat terlihat, polisi perlu menambah jumlah patroli jalan kaki, patroli berkendaraan, atau memasang blokade di jalan. Bisa juga dengan membangun pos-pos polisi di tempat yang terpencil atau mendirikan pusat pelayanan masyarakat. Harus diingat bahwa inisiatif ini biasanya hanya memiliki pengaruh jangka pendek.

Untuk menyimpulkan strategi Polmas berbasis pemecahan masalah, kita bisa mengumpamakan alat-alat yang ada dalam kotak peralatan. Dalam perpolisian tradisional, kotak peralatan biasanya hampir kosong dan hanya berisi strategi penegakan hukum dan kehadiran polisi yang lebih banyak. Berbeda halnya dengan anggota polisi dalam pemecahan masalah, alat-alat yang tersedia di dalam kotak jauh lebih beragam dan menerapkan berbagai taktik yang tersedia.


3) Langkah 3 : Mengevaluasi kemungkinan solusi lainnya

Setelah mengidentifikasi berbagai bentuk solusi, saatnya kini untuk mengevaluasisolusi-solusi





tersebut dan memutuskan bentuk paket solusi yang akan digunakan. Panduan berikut ini dapat membantu memilih beberapa alternatif yangada:

Adanya kemungkinan bahwa respon tersebut dapat mengurangi masalah dan tujuan yang sudah disepakati akantercapai.

Adanya dampak khusus dari respon tersebut terhadap masalah atau konsekuensi serius yang mungkinterjadi.

Sejauh mana respon tersebut bersifat mencegah agar mengurangi pengulangan atau konsekuensi yang lebih akut yang lebih sukar ditangani.

Tingkat di mana respon mempengaruhi kehidupan seseorang yang didasarkan pada sanksi hukum serta penggunaan kekerasan yang mungkindilakukan.

Sikap masyarakat yang kemungkinan besar akan berubah sebagai akibat adanya adopsi solusi alternatiftersebut.

Biaya finansial dalam implementasi solusi alternatif.

Kesiapan sumber daya yang dimiliki polisi dalam menjalankan solusialternatif.

Hal yang harus dilakukan agar respon polisi berakibat positif terhadap hubungan masyarakat denganpolisi.

Kemudahan mengimplementasikan respon. Sebagai tambahan, perlu dipertimbangkanhal-

hal berikut ini:

Strategi yang dipilih harus mampu melihat permasalahan secara keseluruhan dan mampu menanganipenyebabnya.

Strategi harus bisa memberikan solusi jangka panjang.

Solusi harus mampu memberikan perubahan yang berarti bagi warga masyarakat, mengurangi kerugian dan ketakutan mereka di masadatang.

Jika memungkinkan, strategi juga ditujukan untuk mengurangi beban kerjapolisi.

4)   Langkah 4  :    Menyusun    rencana    implementasi solusi

Ketika masalah sudah dipilih, dianalisis, dan paket respon strategis sudah ditentukan, maka kembangkan rencana implementasi untuk memandu respon dan memberikan dasar evaluasi. Rencana





implementasi harus mencakup pernyataan tertulis tentang tujuan, sasaran, strategi, tanggung jawab, dan kerangka waktu.

Tujuan dan sasaran harus selalu tepat, realistis, dan terukur, serta harus ditujukan untuk memecahkan permasalahan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Hal yang tak kalah penting adalah menyampaikan sejelas mungkin bagaimana strategi akan dicapai, serta alat ukur apa yang akan digunakan untuk menentukandampaknya.

Sekali lagi, perlu ditekankan bahwa pemecahan masalah tidak mengesampingkan penegakan hukum atau patroli polisi. Dalam banyak contoh, kedua aktifitas ini akan menjadi komponen penting dari paket solusi yang diinginkan.

Tahap Evaluasi Pemecahan Masalah Metode SARE Banyak alasan pentingnya mengevaluasistrategi-

strategi pemecahan masalah. Alasan yang paling jelas adalah untuk menilai secara langsung apakah strategi pemecahan masalah yang dimaksud sudah berjalan atau belum.

Ada dua jenis evaluasi yang harus dipertimbangkan sebagai bagian dari setiap kegiatan yaitu, evaluasi proses dan evaluasi dampak. Keduanya merupakan hal penting dengan alasan yang berbeda. Evaluasi dilakukan secara terus menerus selama implementasi rencana kegiatan, dimulai pada saat rencana tersebut dilaksanakan.

Evalusi proses berkaitan dengan hal-hal menentukan yang tercermin dari pertanyaan: Apakah rencana sudah diimplementasikan dengan benar? Apakah langkah-langkah yang ditetapkan dalam rencana implementasi dijalankan dengan benar? Apakah ada masalah yang harus dipecahkan? Haruskah rencana implementasi dimodifikasi? Apakah rencana tersebut kelihatannyaberjalan?.

Evaluasi dampak berarti menilai konsekuensi atau hasil dari strategi atau efek dari strategi terhadap permasalahan. Evaluasi dampak biasanya dijalankan dengan membandingkan data “sebelum dan sesudah” atau dengan membandingkan komunitas target dengan suatu kelompok “kontrol”. Hal-hal yang harus dapat ditanyakan meliputi: Apakah perencanaan tersebut menghasilkan sesuatu sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan?Kesalahan





apa yang sudah dibuat?Mengapa?






Tabel pendekatan sistematik pada pemecahanmasalah

(Tabel dari Neighbourhood Policing, BCU Commanders Guide, www.neighbourhoodpolicing.co.uk)






































Keterangan gambar. 2. Tabel. pendekatan sistematik pada pemecahanmasalah.


Langkah-langkah teknis dalam pemecahan masalah Sebagai  anggota  yang  paham  dengan  Hak  Asasi

Manusia dan mendukung kemitraan dibentuk, maka perlu mempersiapkan diri untuk berperan dalam menganalisis dengan cara baru pemecahan masalah sebagai anggota tim.   Analisis   kejahatan   menurut   beberapa  penelitian





merupakan suatu hal yang sangat krusial dalam perpolisian masyarakat. Anggota masyarakat mungkin sangat sulit untuk menjadi seorang penganalisis kejahatan, namun seorang anggota polisi perlu mengetahui hal-hal dasar yang bisa diikuti dalam proses pemecahanmasalah.


Bagian dari manual ini mempersiapkan pembaca untuk menempati peran baru dengan memberikan langkah-langkah dalam pemecahan masalah dan hal-hal yang terkait dengan keamanan lingkungan dan pencegahannya. Sebagai anggota masyarakat yang peduli, tidak bisa menunggu kolega polisi bertanya mengenai suatu informasi, namun perlu ada inisiatif dari polisi dengan mencari akar permasalahannya, mencari solusi yang efektif, membantu polisi untuk mencarilangkah yang efektif dan mengevaluasi setiap tindakan agar polisi dapat belajar dari hasil pencapaian itu. Hal ini berarti bahwa polisi harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tim kemitraan polisi dan masyarakat ini, dan perlu mencari sumber informasi dan data di luar dari pekerjaan sehari-hari, dan perlu mengikuti rencana yang disusun bersama-sama dalam waktu yang cukup lama dari yang diinginkan dan pada akhirnya polisi akan menerima penghargaan atas keberhasilannya dan tentunya kekecewaan atas kegagalannya, sama halnya dengan anggota timlainnya.

Dengan manual ini diharapkan para analisis yang mengambil peran baru dalam masyarakat berkeinginan membagi keahliannya dan menjadi profesional dalam bidang ini. Dengan langkah awal menjadi bagian dari tim ini diharapkan muncul benih-benih masyarakat yang berpengalaman dan profesional yang bermotivasi tinggi yang akan sangat membantu perkembangan Hak Asasi Manusia dalam kemitraan polisi dan masyarakat dalam tahun-tahun mendatang. Setiap anggota polisi dapat menyumbang dengan menyampaikan hasil kegiatan melalui rapat resmi dan seorang polisi dapat melaporkannya dalam laporan kerjanya. Dengan melakukan ini, tidak hanya akan mendapatkan keterampilan dan keahlian tambahan, tetapi akan memperoleh banyak informasi dan menjadi sumber berharga bagi pihak lain.

Langkah untuk menjadi ahli dalam pemecahan masalah:

Menjadi ahli dalam menerapkan modelSARE.

Menganalisis kejahatan denganteliti.





Mengetahui tugas polisi dan masyarakat dalam pemolisian.

Memperkenalkan pemecahan masalah.

Terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah dalam bentuk kelompok yang diwakili oleh masyarakat yang berkepentingan.

Mempelajari bentuk-bentuk kejahatan dan ketidaktertiban di masyarakatsetempat.

Berkomunikasi denganefektif.

Melatih keterampilan dalammenganalisis.

Mengembangkan profesi dalam pemecahan masalah.

Memberi informasi secara menyeluruh kepada fungsi yang terkait suatupermasalahan.

Melibatkan pemerintah daerah untuk membahas permasalahanKamtibmas.

Menjalin komunikasi dengan para pengusaha dan sektor swasta.

Mencari informasi dari para pakar mengenai target dan metode kejahatan di kota atau tempatlain.

Mencari informasi dari para korban secara pasti mengenai kapan, bagaimana dan dimana kejahatan seringterjadi.

Menganalisis kesempatan dan keadaan yang menciptakan benihkejahatan.

Menganalisis tindakan yang akan diambil dalam penegakan hukum dan merekomendasi kepada polisi.

Polisi dalam penegakan hukum perlu melibatkan instansi pemerintah, sosial, dll., agar kerjasama dan kepercayaan terjalin denganbaik.

Membantu agar tidak terjadi viktimisasi berulang terhadap kelompok-kelompoktertentu.

Menentukan tempat-tempat yang cenderung menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat (taman, hiburan malam, terminal, stasiun, kompleks ruko, angkutandll).

Menggunakan studi kasus sebagai pembanding dalam pemecahan masalah dengan menerapkan analisis sehingga tanggapan sesuaisasaran.

Melibatkan anggota dan kelompok masyarakat lain untuk menjadi fasilitator dalam kegiatan pencegahan kejahatan danketidaktertiban.

Buatlah presentasi yang lengkap, padat dan menarik agar pihak lain yang membutuhkan bantuan bisa diberikan secarasukarela.

Menjadi fasilitator yangbaik.





Langkah-langkah di atas adalah beberapa langkah yang bisa diikuti satu-persatu, sesuai dengan model pemecahan masalah SARA (Scanning, Analysis, Response and Assessment), langkah ini akan berguna jika terfokus pada satu masalah sampai selesai dan baru mulai dengan yang baru.







Rangkuman



Problem solving atau pemecahan masalah adalah sebuah pendekatan analitis untuk menangani kejahatan. Dibutuhkan waktu yang lama bagi instruktur atau tenaga pendidik untuk mengajarkan topik ini, tanpa melihat apakah pesertanya berasal dari anggota polisi atau masyarakat, sehingga peserta sanggup melakukan pendekatan analitis untuk menangani kejahatan. Serangkaian proses termasuk dalam pemecahan masalah yang intinya adalah proses mengamati permasalahan kejahatan dan ketidaktertiban.


Melalui analisa masalah yang dilakukan bersama kelompok atau pihak tertentu dalam masyarakat, polisi dan pihak-pihak tersebut mencari jalan keluar bersama melaksanakan serta melakukan evaluasi. Usaha-usaha terus dilakukan untuk memobilisasi (memberdayakan) semua sumber daya masyarakat, sehingga masalah dan penyebab/akarnya dapatdiatasi.


Pemecahan Masalah dengan MetodeSARE

Tahap I : Scanning(Identifikasi Masalah).

Tahap II : Analisa(AnalisaMasalah).

Tahap III : Respons (merumuskan respon yangstrategis).

Tahap IV Evaluasi (Evaluasimasalah).











Soal Latihan




Jelaskan pengertian pemecahan masalah !

Jelaskan tujuan pemecahan masalah!

Jelaskan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam kegiatan pemecahan masalah!

Jelaskan masalah-masalah Kamtibmas!

Jelaskan keuntungan pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatan Polmas!








Jelaskan komponen penting dalam pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatan Polmas!

Jelaskan metode dan teknik pemecahan masalah Kamtibmas dengan pendekatan Polmas!

Jelaskan pengertian SARE!.

Jelaskan tahapan pemecahan masalah metode SARE!

10. Mempraktikkan pemecahan masalah dengan menggunakan metode SARE !












































ADMIN Bermimpi untuk bebas

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel